Kita sepakat siapapun yang terlibat dalam aksi pembunuhan terhadap Nasrudin Zulkarnaen harus dihukum. Namun jangan sampai proses hukum justru mencederai rasa keadilan apalagi menghukum orang yang sama sekali tidak terlibat pembunuhan itu. Jerry Hermawan Lo adalah salah satu tersangka yang menjadi korban konspirasi hukum. Berikut petikan wawancara Majalah TIRO dengan Jerry Hermawan Lo beberapa waktu lalu.
Bisa diceritakan bagaimana anda dijadikan tersangka pembunuhan Nasrudin?
Saya mempunyai teman yang bernama Wiliardi Wizard pada tahun 1997 ketika itu ia masih berpangkat Kompol. Dari pertemanan selama bertahun-tahun dengan dia sudah seperti keluargalah. Lantas saya mengenal Edo yang mana sudah cukup lama sebagai sahabat. Jadi persahabatan itu sudah berjalan puluhan tahun.
Pada suatu hari tanggal 30 Januari 2009 saya ditelepon oleh Wiliardi setelah makan siang sekitar jam 14.00 WIB. "Pak Jerry ada dimana?" kata Wiliardi dan saya menjawab ada di kantor biasalah lagi kerja. "Entar sore abang jangan kemana-mana yah karena saya (Wiliardi) mau datang," oke saya tunggu, jawab saya. Setelah saya tunggu beberapa jam kemudian Wiliardi datang. Dia naik ke lantai 3. "Bang Jerry masih ada gak nomor telepon anak Flores Edo itu?" Tanya Wiliardi. Lalu saya tanya memangnya ada apa? Kemudian Wiliardi mengatakan bahwa ia dipercaya oleh pimpinannya untuk melaksanakan misi tugas Negara yang sangat dirahasiakan oleh Negara.
Lalu saya tanya misi apa, Wiliardi menjawab nanti saja kalau bertemu dengan Edo karena ceritanya panjang. Begitu kata Wiliardi. Tidak lama kemudian ajudannya naik bawa amplop coklat dan saya melihat amplopnya yang waktu itu berisi foto Nasrudin dan mobilnya dan saat itu saya telepon Edo. Saya bilang Edo pak Willy minta dibantu, Willy mana? Willy mantan Kapolres Jaksel yah, udah kapan ketemunya senin aja di mana? Kata Edo ketika saya telepon.
Setelah pertemuan di kantor anda selanjutnya bagaimana?
Karena saya sering beraktifitas di daerah Ancol bermain bowling dan bilyar ya udah ketemuan di bowling aja deh, kita makan malam aja sekalian padahal saya tidak tahu saya mau apa waktu itu. Tepatnya Senin tanggal 2 Februari 2009, Wiliardi tidak lama kemudian datang begitu juga Edo. Edo bantu pak Willy ada tugas Negara. Edo tanya ke saya tugas Negara apa? Lalu saya katakan sesuai kata Wiliardi ke saya kalau ini orang sangat berbahaya bagi Negara karena ingin mengacaukan Pemilu 2009.
Lalu Wiliardi mengatakan ini langsung dari pimpinannya dan ikuti terus-menerus dan diteror selama 24 jam penuh. Ini tugas Negara sangat rahasia, tidak semua orang tahu, saya tanya siapa polisi atau tentara dan orang tersebut juga dikelilingi intel dan aman, kata Wiliardi.
Saya katakan pada mereka berdua saya tidak mau ikut campur masalah ini karena ada terror-teror karena dapat merusak citra saya sebagai pengusaha. Saya tidak mau ikut campur deh masalah ini kamu kan sudah ada nomer telepon Edo, kata saya kepada Wiliardi. Kemudian saya bayar bon makan nasi goreng di kasir yang kita makan kemudian saya pulang tidak ikut-ikutan lagi.
Edo ketika pertemuan di Ancol itu juga mengatakan ini tugas berat dan berbahaya, pada saat itupun Edo tidak memberikan keputusan atau kesimpulan mau atau tidak. Intinya pada saat itu tidak terjadi apa-apa.
Kemudian pada hari Senin 16 Maret 2009 saya mendengar berita di TV ada perampokan yang disertai dengan penembakan pejabat RNI di ModernLand. Yang telah di ekspos oleh semua media karena saya tidak tahu maka saya tidak curiga dan saya tidak mau ikut campur hal ini.
Lalu, tiba-tiba tanggal 28 April 2009 saya ditangkap di kantor saya. Saya dituduh membantu menganjur pembunuhan itu, di sini saya tidak mengerti. Saya tidak ada kepentingan apa-apa, jabatan saya tidak ada, uang juga tidak. Korban pun saya tidak kenal apalagi bermusuhan. Sampai detik ini saya tidak mengerti apa-apa, saya tidak menyangka bisa masuk ke dalam pusaran ini. Saya tidak mengerti apakah masih ada keadilan di negeri tercinta ini.
Bagaimana perasaan anda saat ini?
Sebagai pengusaha Tionghoa kata-kata eksekutor, terror, informan sangat sensitive. Media telah memvonis saya terlibat pembunuhan mereka tidak pernah konfirmasi kepada saya dan pengaruhnya sangat besar bagi kehidupan pribadi saya. Nama baik saya dan keluarga hancur gara-gara stigma itu.
Di dunia saya sebagai pengusaha, saya tidak mau ikut-ikutan apabila terjadi transaksi saya tidak dapat profit dan apabila terjadi kerugian saya tidak dituntut itulah seorang pengusaha. Tapi, disini bagaimana mereka bisa menuntut saya jadi tidak mengerti, semenjak pertemuan di Hailai itu saya tidak pernah dihubungi sampai terjadi kasus ini. Dengan alas an apapun saya tidak tahu ujung pangkalnya dengan masalah ini dan saya tidak mendapatkan apa-apa dalam kasus ini saya divonis oleh media, divonis oleh masyarakat inilah yang menjadi beban berat buat saya. Saya hanya minta keadilan karena saya tidak terlibat dalam persoalan ini.
Kenapa saya yang menjadi terbawa-bawa dalam masalah ini seharusnya saya menjadi saksi bukan menjadi terdakwa seperti ini. Tidak ada keuntungan yang saya dapatkan, apa yang saya perbuat dalam masalah ini dan mendapatkan apa? Motifnya apa sama sekali tidak ada, saya merasa dikorbankan, saya korban sebuah konspirasi panjang.
Ketika proses penyidikan apa Anda tidak menjelaskannya kepada pentidik?
Saya mempertemukan kembali pertemanan yang awalnya sudah pada kenal. Itu saja. Saya ditanya oleh penyidik: "Kenapa sih mau mempertemukan Edo karena polisi yang masih dinas dan berpangkat Kombes/perwira nanya sahabatnya minta dipertemukan atau minta nomor hpnya karena alasan ada tugas Negara saya pikir orang ini mau ditangkap sejak ada kata-kata terror itu. Saya tidak mau ikut-ikutan. Malah tambah tidak mengerti karena dalam persidangan saya hanya mengenal dua orang itu saja dari sekian puluh saksi kami hanya kenal Edo dan Willy yang lainnya tidak ada hubungannya dengan saya. Saya sudah menjelaskan semuanya ke penyidik tapi penyidik malah menjadikan saya sebagai tersangka.
Setelah pertemuan Ancol itu apakah Anda pernah bertemu dengan Wiliardi?
Saya pernah ketemu lagi dengan Wiliardi di Kejaksaan P21 dalam tahap 2. ketika itu WIliardi bilang ke saya, "Abang kan gak ikut campur kenapa abang ditahan?" saya bilang saya gak ngerti kok jadi kacau begini. Yang saya sesalkan kenapa Wiliardi waktu di pengadilan di depan hakim dia tidak berbicara itu. Saya hanya minta Wiliardi dan Edo bicara apa adanya. Saya tidak meminta Wiliardi berbicara bohong, saya hanya minta bicara apa adanya. Tetapi mereka berbicara bohong, nah itu yang membuat saya menjadi marah saya hanya ingin mereka mengatakan apa adanya yang sebenarnya terjadi.
Kenapa lu orang tidak mau mengatakan yang sebenarnya apakah memang semua kasus pidana lempar-lempar saja "Daripada gue jeblos lebih baik luh juga ikut jeblos lah" apakah begitu semboyan dalam kasus pidana tanpa melihat fakta-faktanya. (Suasana wawancara hening setelah Jerry mengatakan itu, raut mukanya menampakkan kesedihan dan matanya berkaca-kaca lalu perlahan bibirnya kembali berucap dengan bergetar-red)
Kenapa mereka tidak mengatakan apa adanya, saya tidak meminta mereka untuk sumpah palsu, saya hanya ingin mereka mengatakan apa adanya yang sebenarnya kenapa dari sebagian dari kejadian itu dia tidak bicara di persidangan tetapi fakta-faktanya dicuekin begitu saja. Semua kegiatan bisnis saya tertunda dan terbengkalai saat ini.
Kalau dengan Edo bagaimana?
Awalnya Edo suruh saya untuk memperkuat BAP-nya. Pada saat saya ditangkap Edo sudah disiksa dikamar hotel dan pada saat itu saya panik sekali. Jadi perintah Wiliardi hanya ikuti saja dan terror ini semua gara-gara Edo dan Wiliardi saja ini saya terlibat bertambah dalam kasus yang ada diantaranya seperti inilah terjadi. Saya sempat marah pada pengacara Wiliardi maupun Wiliardi sendiri kenapa sih dia tidak berani mengatakan apa adanya soal keterlibatannya karena Wiliardi mengatakan "abang kan tidak ada keterlibatan dalam kasus ini" waktu di kejaksaan kenapa ditahan kenapa dia depan hakim dia tidak bicara hal itu berikut juga Edo tidak mengatakan hal serupa di depan hakim waktu menjadi saksi.
Harapan Anda terhadap kasus yang membelit diri Anda apa?
Saya hanya minta majelis hakim harus bisa menilainya tentang pembohong itu siapa, karena disini Wiliardi pembohong besar dan pertemuan dengan mereka hanya satu kali selanjutnya mereka berdua pertemuan yang keenam di Mabes Polri. Saya sudah tidak tahu menahu kegiatan mereka selanjutnya. Edo percaya ini tugas Negara karena Edo melihat Mabesnya waktu pertemuan keenam itu. Saya benar-benar tidak mengerti kenapa saya tidak bersalah ditahan dalam kasus ini dan hanya memberikan nomer telepon bisa ditahan. Sejak memberikan nomer telepon selama 3 bulan tidak ada lagi komunikasi pada mereka berdua sampai saya ditangkap.
Saya berharap majelis hakim masih memiliki hati nurani untuk saya, saya sangat tersiksa dengan status sebagai orang yang terlibat pembunuhan. Saya dan keluarga saya begitu tersiksa dengan musibah ini. Saya hanya memohon kemurahan hati majelis hakim dan Tuhan untuk membebaskan saya dari pusaran ini. Saya benar-benar tersiksa dan menderita.
Administrator